BudayaWisata

Dambus, Kesenian Khas Bangka Belitung Yang Harus Dilestarikan

Diabadikan Budayawan Jerman, Franz Epp Tahun 1830

swarakyatbabel.com Jakarta — Namanya dambus, bukan gambus. Dambus adalah alat musik petik khas Bangka, provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sumber menyebut, dambus lahir karena pengaruh dari alat musik yang berasal dari Timur Tengah, yaitu oud, dengan musik gambus-nya. Namun begitu, terdapat terdapat telaah yang menyebut bahwa dambus sebenarnya merupakan alat musik asli Bangka, produk budaya masyarakat Bangka.

Dalam catatan tertulis tertua tentang alat musik di Bangka, ditemukan catatan hasil penelitian Franz Epp, seorang warga negara Jerman yang pernah berkunjung ke Bangka sekitar tahun 1830-an. 

Dalam bukunya yang terbit tahun 1852 berjudul Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden, Franz menyebutkan, saat berkunjung ke rumah tradisional orang Bangka, di kamar depan (teras rumah), biasanya terdapat ornamen alat musik senar.

Alat musik gitar dambus. (LH)

Alat musik tersebut dideskripsikan oleh Franz yang terbuat dari kayu keras yang ringan, yang kemudian dilubangi dan ditutup kulit monyet. Apa yang dilihat oleh Franz itu kemungkinan adalah alat musik yang sekarang disebut dambus. Bentuk fisik dan cara memainkan dambus tidak menyerap unsur-unsur gambus. Dulu namanya alat musik petik senar. Ketika masuk Islam, diseraplah, gambus menjadi dambus.

Dambus sangat berciri khas Bangka. Elvian disebut sebagai alat musik asli etnis Bangka. Hal ini mewakili dalam bentuk dambus yang merepresentasikan bentuk rusa atau kijang. Rusa atau kijang merupakan penting dalam kehidupan masyarakat Bangka.

Salah satunya dalam tradisi nganggung, yaitu membawa makanan di dulang untuk disantap bersama-sama dalam acara yang berhubungan dengan daur hidup dan upacara keagamaan. Makanan paling mulia atau agung yang disajikan dalam tradisi nganggung adalah daging rusa atau kijang. Untuk menangkap rusa atau kijang, diperlukan ritual khusus. Sebelum berburu, kelompok pemburu yang disebut belapun atau berasuk harus lebih dulu meminta izin kepada dukun hutan. Pembagian rusa atau kijang hasil buruan pun harus dilakukan secara adil dan merata, tidak boleh ada satu pun yang terlewat.

Bagi masyarakat Bangka, dambus memiliki nilai tinggi. Dahulu, untuk membuat dambus, digunakan enam jenis kayu berbeda, yang diambil dari enam hutan yang berbeda pula. Hutan-hutan tersebut masing-masing kategori oleh sungai kecil. Sementara pemetiknya berupa gigi harimau. Agar suara yang keluar dari dambus membuat rindu atau menjerat hati pendengarnya, biasanya dambus diberi kemat (jimat). Caranya dengan mengasapi dambus menggunakan kemenyan lalu diberi mantra.

Saksikan Video Youtube ini:

 

Begitu juga dengan para pemain dambus. Ada ritual, bentuknya bisa berbeda-beda, yang biasa dilakukan oleh pemain dambus agar penonton atau pendengar terpikat alunan dambus yang memainkan sejumlah. 

Seiring perkembangan zaman, kemat dan ritual-ritual semacam itu sudah banyak ditanggalkan. Begitu juga dengan material dambus berupa enam jenis kayu dari enam hutan berbeda. Saat ini, dambus umumnya banyak dibuat dari kayu nangka, kayu ludai, kayu pulai, dan lain-lain. Di Belitung, dambus yang disebut juga gambus, sebagian bahkan dibuat dari kayu-kayu limbah atau kayu-kayu sisa. (*)

 

 

sumber 

Tags
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker