Opini Publik

Deja Vu Kisah Men Shi (孟琪) Utusan Khan: Ancaman Debt Trap Diplomacy Invasi OBOR 

Pangkalpinang swarakyatbabel.com —- Sejarah jika dibaca ulang, tentu akan membangkitkan berbagai atribut rasa di nebula kalbu kita masing-masing. Sebagian ada yang terinspirasi, ada yang sedih termehek-mehek, bahkan ada juga yang berkobar rasa bencinya pada jalinan kisah yang ditulis. 

Oleh karenanya, dalam rubrik sejarah kali ini, editor khusus memilih sebuah epik kepahlawanan Raden Wijaya. Dalam suasana suksesi kerajaan-kerajaan Jawa pada masa itu. Di beberapa bagian kisah, nanti pembaca akan temui kecerdasan, sifat lihai dan ketepatan dalam mengambil keputusan dari salah seorang Raja Jawa. Selamat membaca. 

 

Utusan Khan dan Murkanya Kertanegara 

Sejarah mulai mencatat, tatkala Men Shi atau Meng-qi (孟琪), yang memiliki pangkat sebagai utusan Khan yang sengaja dikirim ke Jawadwipa. Kedatangannya tidak diterima dengan baik di sana. Penguasa Kerajaan Singasari, Kertanagara murka dan tidak mau tunduk kepada Mongol. Sesaat setelah Men Shi menyerahkan surat dari Khan. 

“Bilang pada rajamu, Singasari tidak sudi bertekuk lutut,” hardik Kertanegara seraya mengacungkan keris emasnya. 

Sambil terus menyumpah atas kekurangajaran Men Shi, Kertanegara lalu menjatuhkan hukuman dengan mengecap wajah sang utusan dengan besi panas seperti yang biasa dilakukan terhadap pencuri, bahkan dengan keris saktinya Ia memotong telinganya, dan mengusirnya secara kasar. Mongol diinjak kepalanya dengan hina dina.

Kabar penghinaan tadi sampai juga ke telinga Kubilai Khan, Ia pun langsung mengumpulkan para pembesar kerajaa  dan akan membuat perhitungan dengan Kerajaan Singasari. Berdasarkan naskah Yuan shi, yang menceritakan sejarah Dinasti Yuan, sebanyak 20,000-30,000 prajurit dikumpulkan dari Fujian, Jiangxi dan Huguang di Cina selatan, bersamanya disiapkan pula 1,000 kapal serta logistik berperang untuk satu tahun. 

Pemimpinnya adalah Shi-bi (orang Mongol), Ike Mese (orang Uyghur), dan Gaoxing (orang Cina). Mereka bertiga adalah Panglima pasukam yang dikirimkan ke selatan, yakni Singasari di tanah Jawadwipa. Pasukan Yuan berangkat dari Quanzhou bagian selatan, lalu menyusuri pesisir Dai Viet dan Champa untuk menuju sasaran utama mereka. Negara-negara kecil di Malaya dan Sumatra tunduk dan mengirim utusan kepada mereka, dan komandan Yuan meninggalkan beberapa darughachi di sana. 

Diketahui bahwa pasukan Yuan sempat berhenti di Ko-lan (Biliton, sekarang Pulau Belitung) pada bulan Januari 1293. Setelah itu mereka berlayar menyusuri pantai utara jawa,sampai akhirnya mereka sampai di Pantai Tuban. 

Tapi yang didapat ketiga utusan tersebut para pembaca? Rupanya saat mereka mempersiapkan pasukan yang jumlahnya puluhan ribu tersebut, konstelasi politik di Jawadwipa telah berubah sama sekali. Kertanegara telah mangkat karena dibunuh oleh Jayakatwang dalam tragedi berdarah suksesi kepemimpinan di tanah Jawa. Jayakatwang inilah kepala pasukan yang memberontak terhadap kerajaan Singasari. Jayakatwang sendiri merupakan seorang Adipati di Kediri, negara federal Singasari, sebelum akhirnya memberontak dan berhasil membunuh Raja Kertanegara.

Sementara itu, justru menantu Kertanegara, Raden Wijaya mendapatkan pengampunan dari Jayakatwang yang memberontak. Blunder politik yang kelak akan disesali oleh pemberontak. Raden Wijaya bersiasat jitu akan menggunakan ‘jasa pasukan’ yang sebenarnya datang untuk ekspansi nanti.

 

Muslihat Raden Wijaya dan Terbentuknya Majapahit 

Disinilah epik kepahlawanan Raja Besar Nusantara, Raden Wijaya dimulai. Jayakatwang yang mendapatkan berkah pasukan sisa kerajaan Singasari, nampak pede dalam menghadapi perlawanan yang dilancarkan oleh Raden Wijaya. Tetapi Jayakatwang juga tidak menyangka bahwa Raden Wijaya ada ‘sekutu’ mendadak -jumlahnya puluhan kali lipat dari tentara Singasari- yang mempunyai musuh bersama, yakni Singasari. Tentunya dipersenjatai dengan amunisi yang lengkap ala tartar mongol. Konon, teknologi meriam kapal laut mulai digunakan pada saat penyerangan lewat laut jawa.

Di benak pasukan tartar tadi berkecamuk perintah Kaisar bahwa musuh berupa tentara kerajaan harus dihancurkan, harus diberi pelajaran sesuai titah dari Kubilai Khan. Demi melihat derasnya pasukan yang bagaikan air bah tersebut, tentara Singasari kewalahan, banyak yang gugur, maka secara jantan dan teratur Jayakatwang mundur teratur ke arah ibukota Singosari, Tumapel. Dengan sisa-sisa pasukan yang hancur dan cerai-berai. Logistik kerajaan drastis langsung menipis, maka kehancuran Singhasari hanya menunggu waktu saja. Dan dapat dikatakan sudah kalah total. Akibat serangan dari 3 panglima Tiongkok yang bersekutu dengan Raden Wijaya tadi.

Namun tinta sejarah belum kering mencatat. Bahwa setelah Jayakatwang dikalahkan oleh pasukan Mongol, Raden Wijaya kembali ke Majapahit, seraya memakai muslihat, dirinya hendak menyiapkan pembayaran upeti sebagai tanda terima kasih untuk Mongol, dan meninggalkan sekutu Mongolnya mabuk semalam suntuk berpesta merayakan kemenangan semu mereka. 

Shi-bi dan Ike Mese mengizinkan Raden Wijaya kembali ke daerahnya untuk menyiapkan upeti serta surat penyerahan diri, namun Gaoxing tidak menyukai hal ini dan dia memperingatkan dua komandan lainnya. Raden Wijaya kembali melancarkan perang urat saraf dengan meminta sebagian pasukan Yuan untuk datang ke negaranya. Tanpa membawa senjata. Dan anehnya, seperti sudah tersurat, di-iyakan oleh bala tentara yang sedang sorak-sorai mabuk kemenangan tersebut. Alhasil, dua ratus prajurit Yuan yang tak bersenjata dan dipimpin oleh dua orang perwira dikirim ke wilayah kekuasaan Raden Wijaya, Majapahit. 

Sejurus kemudian, Raden Wijaya dengan cepat memobilisasi pasukannya dan langsung menyergap rombongan pasukan Yuan. Setelah mendapatkan kemenangan kecil tersebut, maka Raden Wijaya menggerakkan pasukannya. Menuju kamp utama pasukan Yuan dan melancarkan serangan blitzkrieg. Dia berhasil membunuh banyak prajurit Yuan sedangkan sisanya lintang pukang berlari kembali ke kapal mereka. Pasukan Yuan mundur secara kacau dan berantakan, ditambah lagi saat itu sedang angin muson yang dapat membawa mereka pulang akan segera berakhir.  

Pilihan mereka dilematis, melawan dengan perut kelaparan karena logistik menipis, atau mereka terancam terjebak di pulau Jawa untuk enam bulan berikutnya. Akibat dari serangan itu, pasukan Yuan kehilangan lebih dari  3.000 prajurit terbaiknya. Setelah kemenangan atas pasukan mongol tersebut, maka Raden Wijaya kemudian membuka hutan di daerah Tarik. Dan mendirikan sebuah desa di sana. Desa itu diberi nama Majapahit, yang diambil dari nama buah maja di sana yang memiliki rasa yang pahit. Sehingga jadilah namanya Majapahit (maja+pahit). inilah cikal bakal kerajaan besar kedua setelah Singasari di Nusantara,bahkan di Asia Tenggara.

Kisah perang tersebut diceritakan secara singkat dalam Yuan Shi:

“…Pasukan dari Daha datang menyerang Wijaya pada hari ketujuh bulan itu, Ike Mese dan Gaoxing datang pada hari kedelapan, beberapa prajurit Daha dikalahkan, sisanya kabur ke pegunungan. Pada hari kesembilan belas, pasukan Mongol bersama sekutu mereka tiba di Daha, bertempur melawan lebih dari seratus ribu prajurit, menyerang tiga kali, membunuh 2.000 orang sambil memaksa ribuan lainnya mundur ke sungai lalu meneggelamkan mereka. Jayakatwang mundur kembali ke istananya …    ” — Yuan-shi (Buku 210)

Kegagalan ini sekaligus merupakan ekspedisi militer terakhir Kubilai Khan. Sebaliknya, Majapahit kemudian menjadi negara paling kuat pada masanya di Nusantara. 

 

OBOR Project: Kolonisasi Dengan Skema Debt Trap Diplomacy? 

Ada pelajaran yang dapat dipetik disini. Soal  Men Shi (孟琪) sang utusan Kaisar Jenghis Khan. 

Kalau dulu, di bawah pimpinan Shi-bi (orang Mongol), Ike Mese (orang Uyghur), dan Gaoxing (orang Cina) setelah Meng Shi dihinakan oleh Kertanegara. Sementara untuk sekarang bisa dibilang, pendulum sejarah seperti berputar ulang. 

Banyak analis pertahanan menyebutkan bahwa ambisi Xi Jinping dengan skema One Belt One Road alias Jalur Sutra Modern mirip dengan invasi terselubung memakai dalih bantuan infrastruktur, namun di dalamnya tersembunyi strategi proxy war. Atau Perang Asimetris. Aneksasi wilayah dengan senyap tanpa desingan mitraliur, dentuman meriam, barisan kapal perang. Kalau Rusia dengan terang-terangan invasi ke Ukraina dengan ratusan ribu tentara berbaris, kendaraan tempur militer merangsek masuk lewat perbatasan. Maka, Xi Jinping sesuai karakternya, memakai pola bantuan infrastruktur. Setelahnya kemudian (kuat diduga) para militer berseragam TKA Asing menyerbu masuk dan resmi dibiarkan oleh penguasa akibat mekanisme proyek Turnkey management. Cara yang sama ketika Tiongkok menjajah Tibet, Uyghur, Turmenkistan. Yang terbaru korbannya adalah Uganda serta Banglades. Keduanya kolaps laksana ikan diangkat dari air. Menggelepar menunggu sakaratul maut. 

“Kalian mau dibangun Infrastruktur buat kota kalian? Dengan biaya yang sangat murah maka bangsa kalian akan maju,” rayu para petinggi Politbiro Partai Komunis China melalui agen mereka di perantauan. Tahap selanjutnya tentu saja para overseas ini connecting dengan penguasa di negara dunia ketiga yang bermental budak, rela menjual bangsanya, rakus akan uang rente hutang.  

Perilaku mereka ini : antek pengkhianat dan bandar narkoba hampir sama saja. 11 12 kalau orang bilang. Sudah hidup di negara kelahiran mereka, eh malah merusaknya demi bangsa asing. Kalau dulu berkiblat pada negara-negara barat sebagai hegemoni di dunia. Maka kini diyakini mereka ikut terlibat dalam skema One Belt One Road. 

Kolonisasi negara dengan skema bantuan luar negeri atau analis sebut : debt trap diplomacy. Diplomasi jebakan hutang. 

Selanjutnya, kelompok taipan/ pengusaha yang dibesarkan dari keringat hasil pribumi tersebut, sesungguhnya kuat dugaan sudah berkhianat terhadap saudara sebangsa dan setumpah darah. Karena mereka sekarang selain berkelompok secara inklusif, disinyalir juga sudah memiliki hasrat untuk menguasai, secara de facto merebut kedaulatan milik pribumi secara politik. Bukan lagi hanya dominasi secara ekonomi. Caranya adalah dengan bersekongkol dengan pejabat pribumi yang bermental rakus. Play As A God.

Sementara itu, kohesivitas sosial kita belakangan seperti sengaja dibenturkan untuk saling cakar-cakaran satu sama lain. Sosmed sebagai ruang literasi publik, ironisnya netizen justru saling baku tikam dalam perang narasi. Kelompok penjarah pengkhianat tadi berpesta pora menyedot kekayaan negara. Bukankah the guardian sudah menyingkap tabir? 

Sesungguhnya buzzerp tadi “dibayar” untuk fabrikasi kegaduhan. Dan kita dengan polosnya malah meladeni mereka. Tahu gak? Setiap komen yang kita lontarkan atas postingan provokatif, mereka dapat uang dari situ. Semakin banyak komen, semakin kaya mereka. Makanya, kalau saya pribadi, lebih memilih diam saja, walau terus terang hati ini mendidih saat melihat mereka seenaknya saja menghina syariat Islam. Saya lebih memilih mengadukan keluh kesah saya pada Allah Azza Wa Jalla di dalam sujud saya. 

Jadi, sadarkah kita semua? Ada sesuatu yang tidak lazim dalam fabrikasi isu yang terlihat norak. Kok syariat agama islam dipermasalahkan, kok kerekatan kita sebagai bangsa malah seolah dibuat renggang? Kenapa sih, bahan olahan pendengung cuma Anies, Islam dan oposisi? Kenapa mereka bungkam saat melihat isu papua? Diam ketika kasus mega korupsi ASABRI, JIWASRAYA terkuak? Atau saat kelangkaan migor, saat rakyat terjengkang bertubi-tubi dihajar kenaikan TDL, gas dan bbm? Kemana narasi ganas mereka? Ada apa sih sebenarnya? Apakah buzzerp sedang menjalankan skenario yang disodorkan oleh komprador asing? 

Sadarlah bangsaku, ada pendulum sejarah yang dikhawatirkan bisa berulang disini. Ada alur cerita yang sama, yang sedang berupaya diulangi. (*)

 

Oleh : Lukman Hakim ~ penulis/pemred media online swarakyatbabel.com ~ tinggal di Jakarta

 

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker