PeristiwaSejarah

Ini Dosa Sejarah Perancis Di Benua Afrika

swarakyatbabel.com — Perancis merupakan salah satu negara adi daya pada masanya. Saat itu, bersama Inggris, Perancis banyak menancapkan pengaruhnya di percaturan politik dunia, awal abad 19. 

Kolonialisme dan Imprealisme merupakan dua instrumen vital untuk mengeksploitasi sumber daya alam di Benua Afrika. Mereka bukan saja menjarah bahan tambang seperti emas dan perak, namun merambah hingga minyak dan bebatuan mulia seperti berlian untuk dikeruk dari sana.

Faktanya, dengan teknik pemerintahan militer yang diterapkan, serta hasil ekonomi yang disedot keluar dari para negara jajahan, Perancis sampai saat ini mampu bersaing dalam kancah negara maju di Benua biru.

Dilansir dari sumber, akhir pekan ini redaksi memilihkan artikel lepas ini untuk menemani anda di hari libur, silahkan disimak. 

 

Aljazair.

Daerah Aljazair di Afrika Utara hanya terletak 770 km dari Marseille. Udaranya serupa dengan Prancis Selatan, yaitu iklim Laut Tengah, sehingga cocok untuk kolonis Prancis. Peristiwa pembunuhan atas konsul Prancis di Aljazair tahun 1827 dijadikan alasan untuk menguasainya.

Rakyat di bawah Abdul Kadir menentang kekuasaan Prancis (1801 – 1847). Setelah perlawanan tersebut bisa dipatahkan, Aljazair dijadikan bagian Prancis. Selama kira-kira empat puluh tahun daerah tersebut diperintah dengan pemerintahan militer, kemudian diganti dengan pemerintahan sipil. Selain daerahnya yang subur, juga memiliki sejumlah bahan tambang. Lebih-lebih setelah diketemukan tambang minyak jajahan itu makin penting artinya bagi Prancis.

 

Sahara.

Daerah Sahara yang sebagian besar merupakan gurun pasir direbut Prancis dari pangkalannya di Aljazair dan Senegal. Sehingga Prancis menguasai daerah Afrika Barat Laut.

 

Madagaskar.

Madagaskar merupakan pulau terbesar di sebelah timur Afrika. Prancis telah berkedudukan di Comoro di sebelah barat, dan Reunion di sebelah timur Madagaskar pada abad ke-18. Dalam rangka pembagian Afrika, Inggris mengakui Prancis sebagai pelindung kerajaan-kerajaan asli di Madagaskar (18885). Tetapi kemudian pulau tersebut dijadikan jajahan Prancis (1896) agar dapat makin kuat mengimbangi Inggris di Afrika Timur.

 

Tunisia.

Tunisia merupakan wilayah di sebelah timur Aljazair, di tengah-tengah pantai utara Afrika. Daerah itu resminya jajahan Turki dan diperintah oleh seorang bey yang banyak memiliki utang pada negara-negara Barat. Keuangannya kacau sehingga pinjamannya tidak dapat dikembalikan.

Karena itu, negara-negara Barat mengurus keuangan Tunisia. Prancis menduduki wilayah itu tahun 1881 sebagai perluasan koloninya di Aljazair yang bersembunyi di Tunisia. Pendudukan tersebut juga bertujuan sebagai imbangan kekuatan (balance of power) terhadap Inggris di Laut Tengah yang telah menguasai Malta tahun 1814 dan Siprus tahun 1878.

 

Kongo (sekarang bernama Zaire).

Daerah ini merupakan daerah Afrika Tengah yang subur. Pada mulanya Belgia yang mendudukinya, tetapi kemudian Inggris, Prancis, dan Jerman memperebutkan hutan rimba tanpa batas tersebut. Dengan pangkalan di muara Sungai Kongo, Prancis menduduki sebagian wilayah itu.

Otto von Bismarck mengambil prakarsa mengadakan Kongres Berlin II (1885) untuk menyelesaikan soal Afrika. Kongo dijadikan milik pribadi Raja Leopold II dari Belgia yang mempunyai fungsi sebagai pemisah daerah jajahan Inggris, Prancis dan Jerman. Pelayaran di Sungai Kongo terbuka bagi semua kapal. Negara-negara Barat wajib ikut memberantas perdagangan budak.

Salah satu foto sejarah contoh perbudakan di benua Afrika.

Peristiwa Fashoda.

Perebutan wilayah Afrika antara Inggris dengan Prancis mencapai puncaknya dalam Peristiwa Fashoda (1898). Prancis ingin menyatukan daerah jajahannya dari Senegal – Kongo – Afrika Tengah sampai ke Somalia, jadi Afrika mau dikuasainya dari Barat sampai Timur.

Somalia yang terletak di sebelah timur Ethiopia telah dikuasai Prancis tahun 1839. Letaknya berhadapan dengan Aden yang merupakan jajahan Inggris. Sementara itu Inggris dengan cita-citanya from Cape to Cairo, ingin menguasai Afrika dari selatan sampai utara.

Dari Kenya dan Uganda yang telah dikuasainya tahun 1885, Inggris bermaksud merebut Sudan dari arah selatan. Sedangkan pasukan Inggris yang lain di bawah Kitchener yang telah menguasai Mesir 1883 bergerak ke arah selatan. Waktu itu juga pasukan Ethiopia di bawah perwira-perwira Prancis berusaha merebut daerah selatan Sudan atas anjuran Prancis.

Tentara Prancis di bawah Marchand dari barat bertemu dengan pasukan Inggris dari utara maupun selatan, dan pasukan Ethiopia dari timur. Jenderal Kitchener menuntut Marchand agar keluar dari Sudan karena daerah itu telah menjadi daerah kekuasaan Inggris dan Mesir.

Tetapi, ditolak oleh Marchand dan ia bersedia keluar dari Sudan Selatan hanya atas perintah Pemerintah Prancis. Hampir saja terjadi pertempuran antara kedua kekuatan imperialis Barat. Pemerintah Prancis yang sedang menghadapi persoalan-persoalan dalam negeri yang gawat terpaksa memerintahkan Marchand menarik diri dari Fashoda. Jadi Inggrislah yang menang. Dalam Convention of London 1899 ditetapkan batas-batas daerah Inggris dengan Prancis di Afrika.

 

Maroko

Merupakan daerah ujung Afrika Barat Laut yang strategis letaknya, karena berhadapan langsung dengan Selat Gibraltar. Dalam sejarah telah terjadi dua kali penyerbuan melalui Maroko ke Eropa (711 dan 1942). Karena Maroko demikian pentingnya, sampai tahun 1912 tidak ada negara yang berani mendudukinya karena takut akan menimbulkan krisis politik.

Dengan politiknya yang lihai, Prancis memperoleh kedudukan di Maroko. Kedudukan itu diperoleh setelah diadakan diplomasi dengan sejumlah negara Barat. Negara-negara barat tersebut yaitu Italia, yang dibiarkan menduduki Tripoli (1900), dan Inggris yang dapat memperoleh kedudukan di Mesir (1904).

Di samping itu, juga dengan Spanyol yang memperoleh kedudukan di daerah sepanjang Gibraltar di Maroko 1904, dan Jerman yang memperoleh sebagian dari Kongo yang diduduki oleh Prancis 1911. Sehingga dalam perjanjian di Fez, Maroko menjadi protektorat Prancis-Spanyol 1912. Kedudukan Sultan Maroko tetap, tetapi ia didampingi oleh Residen Jenderal Prancis Maarschalk Lyautey yang memerintah tahun 1912 – 1825.(*)

 

Sumber Blog 

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker