Opini Publik

Kasus Pedophilia Dalam Tempat Ibadah, Pelaku Harus Ditindak Keras dan Timbulkan Efek Jera

swarakyatbabel.com Bangka Belitung — Sebuah video berdurasi dua menit-an menjadi viral di berbagai platform sosial media. Video pendek yang memperlihatkan kebejatan akhlak seorang lelaki, yang dhilalahnya dilakukan pada korban seorang anak perempuan. 

Sampai penggalan persepsi ini saja, publik sudah berasap kepalanya. Ngebul karena emosi. Apalagi dilengkapi dengan narasi selanjutnya. Bahwa semua itu dilakukan didalam tempat ibadah suci umat Islam, atau disebut Mesjid. Penodaan tadi juga dikerjakan oleh pelaku -yang sangat patut diduga punya kelainan orientasi seksual- dalam waktu korban sedang makmuman dengan jamaah lainnya melaksanakan sholat Isya. 

Dipastikan, siapapun orangnya yang melihat, menyaksikan, untuk kemudian mengamati dan teringat akan nasib putrinya dirumah, akan bereaksi sangat keras. Emosi dihunus didepan, mulut otomatis mengeluarkan sejuta ancaman pada pelaku, dan bersama masyarakat lainnya sama-sama menunggu berita selanjutnya soal tertangkapnya setan berwujud manusia laknat tadi. 

Di sela waktu menunggu konfirmasi pada berbagai sumber, sebagai tanggung jawab moral saya sebagai penulis. Izinkan saya membagikan buah pikiran pribadi saya soal penyakit pedophilia. 

Silakan disimak.

 

Pelaku dipastikan mengidap penyakit mental dan berbahaya

Dalam sejarahnya, pedophilia berasal dari kata pais/paid dan philia yang disatukan menjadi pedophilia. Atau dapat diartikan sebagai salah satu penyakit seksual yang biasanya dialami oleh pria / wanita dewasa yang disertai dengan rasa obsesif untuk melakukan dan melampiaskan hasrat seksualnya kepada anak di bawah umur.

Istilah erotika pedofilia diciptakan pada tahun 1886 oleh psikiater asal Wina, Richard von Krafft-Ebing dalam tulisannya Psychopathia Sexualis. Istilah ini muncul pada bagian yang berjudul “Pelanggaran Individu Pada Abad Empat belas,” yang berfokus pada aspek psikiatri forensik dari pelanggar seksual anak pada umumnya

Pelaku pedophilia cenderung memiliki sifat obsesif yang berlebihan. Dia akan terus mengejar tujuan yang telah dia tetapkan dan tidak akan berhenti sampai tujuan itu tercapai. Sasaran disini berupa anak-anak yang dijadikan objek pelampiasan hasrat seksual pedofil. Pernyataan mantan Ketua KPAI Arist Merdeka Sirait tersebut berdasarkan pengakuan Andri Sobari alias Emon, pedofilia asal sukabumi pada tahun 2014 silam.  

Selanjutnya, menurut Psikolog yang juga dosen Bimbingan Konseling FKIP Universitas Lampung, Shinta Mayasari, pedofil merasa lebih bisa berinteraksi dengan anak. Mereka umumnya tidak asing dengan anak-anak karena mereka memiliki akses ke interaksi yang intensif. Mereka akan mendekati anak-anak ini dengan perhatian, kasih sayang, bahkan hadiah untuk mendapatkan kepercayaan. Perlahan mulai ajari anak tentang seks seperti memperlihatkan gambar, memainkan peran sebagai pasangan, menyentuhnya terlebih dahulu, dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak tidak menyadari bahwa mereka mengalami pelecehan seksual.

Sebagai latar belakang, pengidap penyakit pedophilia biasanya melalui masa kanak-kanak mendapatkan banyak kekerasan, verbal, visual maupun fisik. Dan mengapa dikatakan agresif? Karena seorang pedofil akan melakukan apapun untuk mendapatkan anak yang diinginkannya walaupun itu kekerasan. Bisa dengan memaksa target atau melukai orang tua target atau orang yang ingin menahannya untuk mendapatkan anak.

Nah dengan paparan data yang penulis kumpulkan dari berbagai literatur tadi. Sekarang mari kita sama-sama bedah menurut pemahaman yang awam, soal perilaku bejat lelaki di video yang viral di sosmed tadi. 

1.Pelaku mempersiapkan aksinya

Ini ditandai dengan video pendek sebelumnya yang memuat adegan pelaku masih memakai helm saat masuki lingkungan mesjid dan melepasnya saat tiba di tikungan menujua koridor dalam. Kemudian pelaku memilih waktu setelah sholat dimulai. Ada kemungkinan pelaku sudah beberapa kali membaca situasi terlebih dahulu.

2.Memakai masker bukan sebagai patuhi prokes tapi sebagai penyamaran 

Anjuran memakai masker di masa pandemi ini memang menurut hemat penulis harus digunakan, akan tetapi di satu sisi kadang dimanfaatkan sebagian pelaku kejahatan. Baik kejahatan pidana konvensional maupun kejahatan seksual seperti predator anak. Masker dipakai fungsinya sebagai penyamaran. Ingat, seorang predator psikopat akan selalu memakai bingkai beragam hiasi wajahnya.

3.Terbukti sakit, karena dilakukan berulang kali dalam satu kesempatan

Pengidap penyakit pedophilia yang tinggal di wilayah yang memegang teguh agama dan adat budaya melayu, tentunya punya sedikit kesempatan melancarkan aksi syahwat setannya. Hal ini terbukti ketika pelaku terlihat dua kali lakukan hal yang sama (maaf) penetrasi seksual dari belakang terhadap korban. Bisa diartikan pelaku lama memendam kesempatan tersebut.

4. Pelaku harus dihukum berat dan disiarkan seantero wilayah soal tertangkapnya pelaku 

Dalam kajian yang ditulis oleh Choiriyah, Choiriyah (2009) tesis skripsi : Sanksi tindak pidana Pedophilia dalam pasal 82 UU no. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dalam perspektif Maqasid al-Syariah.

Disebutkan bahwa data penelitian dihimpun melalui pembacaan kajian teks yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik verifikatif dan pola pikir deduktif. 

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa sanksi tindak pidana pedophilia dalam pasal 82 undang-undang no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak adalah maksimal lima belas (15) tahun penjara dan denda paling banyak 300 (tiga ratus) juta rupiah. 

Dalam hukum pidana Islam, tindak pidana pedophilia terdapat dua kategori apabila perbuatan tersebut terdapat unsur-unsur zina tentu adanya persetubuhan maka sanksinya adalah had, dan apabila dalam tindakannya tidak terdapat unsur-unsur zina yakni hanya mendekati perbuatan zina maka hukumannya adalah tazir. 

Akhirul kata, apapun nanti bentuk hukumannya, penulis sangat berharap semoga pelaku cepat tertangkap dan dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Agar kedepannya para pengidap penyakit pedophilia dapat segera tobat dan berobat.

Sekian.

 

Lukman Hakim 

Editor In Chief swarakyatbabel.com 

 

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker