EkonomiNasional

Mafia Migor Seolah Untouchable’s, Ini Lima Analisa Said Didu Terkait Hal Tersebut

Pangkalpinang swarakyatbabel.com ~ Kelangkaan barang konsumi minyak goreng beberapa waktu belakangan ini, banyak pihak menuding adanya “invisible hands” atau mafia yang sedemikian rupa mengatur tata niaga minyak goreng di negeri yang memiliki luas 15,08 juta hektare kebun sawit, Selasa 22/03/2022.

Meski begitu, faktanya Mendag Luthfi sendiri seolah terkesan tak berdaya menghadapi kelindan mafia migor yang diyakini sudah merambah mulai dari hulu maupun hilir rantai distribusi.

Data yang dikutip dari web katadata tersebut . Luasannya naik 1,5% dibanding tahun sebelumnya yang seluas 14,8 juta ha. Dari total 15,08 juta ha, mayoritas dimiliki oleh Perkebunan Besar Swasta (PBS) yaitu seluas 8,42 juta ha (55,8%).

Pemerhati kebijakan publik sekaligus mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu membagikan analisa terkait fenomena kelangkaan migor tadi di akun resmi twittermya @msaid_didu.

‘Bismillahirrahmanirrahim. Sesuai janji saya, saya membuat utas yang akan analisis kenapa mafia minyak goreng (termasuk mafia CPO) – selanjutnya disingkat #mafiamigor tidak bisa ditangkap – bahkan tidak bisa diungkap oleh penguasa padahal rakyat sudah dirugikan,” tulisnya pada pukul 18.35 Wib.

Ia juga mengatakan, sesuai pengertian umum bahwa mafia adalah sekelompok orang yang bergerak secara rahasia untuk melakukan kejahatan. Jika defenisi ini digunakan dalam #mafiamigor maka mereka adalah penjahat dan pelanggar hukum, dll. Kalau memang demikian kenapa tidak bisa diungkap?

“Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ada #mafiamigor sebagaimana dimaksud pada pengertian butir 2 ? Ataukah yang ada adalah pengusaha yang memanfaatkan celah aturan yang ada untuk mendapatkan keuntungan tapi sebenarnya mereka tidak melakukan kejahatan atau pelanggaran hukum,” imbuhnya pada poin ketiga kultuit tersebut.

Menurutnya, tingkat “keruwetan” mengungkap #mafiamigor mulai paling ruwet. Pertama, mafia ada-sudah menguasai penguasa. Kedua, mafia ada-sudah bagian oligarki. Ketiga, mafia ada-dijadikan sapi perah penguasa. Keempat, mafia tidak ada-hanya oligopoli. Dan kelima, mafia tidak ada-hanya manfaatkan celah aturan cari untung.

“Untuk mengetahui pada posisi mana #mafiamigor maka perlu dianalisis kebijakan pemerintah terkait perdagangan CPO dan minyak goreng agar kita mengetahui apakah mafia ada dan bagaimana cara mereka melakukan kejahatan,” sebutnya.

Kenaikan harga migor, sambung Said Didu, disebabkan oleh kenaikan harga CPO. Kenaikan harga CPO disebabkan kenaikan harga minyak bumi dan gagal panen penghasil kedele. Harga CPO sekarang selalu terkait dengan harga minyak bumi karena di dunia tidak sedikit CPO digunakan sebagai bahan bakar.

“Yang makin mendorong naiknya harga migor dibandingkan beberapa tahun lalu adalah melemahnya nilai tukar rupiah karena standar harga CPO dunia adalah  Dollar AS.  Harga normal CPO sekitar $ 750/ton atau sktr Rp 9.000 per Kg. Harga skrg sekitar $ 1.200 ton atau Rp 15.000 per Kg. Cara sederhana perkirakan harga minyak goreng curah di pasar adalah harga CPO per Kg ditambahkan Rp 4.000 untuk harga per liter. Jika harga CPO Rp 15.000/Kg maka harga minyak goreng curah sekitar Rp 19.000 per liter. Untuk harga migor kemasan sekitar Rp 20 – 21.000 per liter,” tutup kultuit tersebut. (*)

source : akun twitter @msaid_didu
Editor : LH

Tags

Related Articles

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker